———————-
Spesifikasi Buku:
———————-
Pengarang: Ahmadin
Penerbit: Rayhan Intermedia
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 403 hlm
Cetakan: I, 2016 (Hardcover)
ISBN: 978-602-92662-9-2
———————-
Sinopsis:
———————-
Dalam sejarah Nusantara, kepulauan Selayar memiliki arti penting terutama dalam aktivitas perdagangan maritim. Sejarawan Maritim Indonesia, Edward L. Poelinggomang menulis bahwa Masyarakat Selayar telah lama terlibat dalam dunia perdagangan maritim. Menurutnya, ketika Vietnam mendapat serbuan dari Cina abad ke-2 SM, penduduknya melarikan diri dan berlayar dengan produk budayanya yang terkenal, yakni nekara dan tiba di Selayar. Kapan kehadiran pelarian dari Vietnam itu di Selayar belum dapat diketahui dengan pasti. Namun bukti kehadiran mereka itu adalah ditemukannya Nekara, tipe Heiger IV di Selayar.

Kenneth R. Hall yang mengkaji kegiatan perdagangan pada periode awal, juga menyatakan bahwa pada ke-13, wilayah kepulauan ini (Selayar) berada dalam Zona Perdagangan Maritim Laut Jawa yang berada dalam hegemoni Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Dalam naskah Negara Kartagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1364, Selayar juga dikisahkan dihampiri dan disinggahi oleh armada dagang Majapahit yang melakukan perdagangan maritim di kepulauan ini.

Bukti lain peran penting Selayar dan hubungannya dengan dunia luar, yakni hasil pengamatan terhadap temuan fragmen-fragmen keramik di Gantarang Lalang Bata Selayar diketahui berasal dari Dinasti Yuan (abad XIII dan XIV). Pun dalam naskah hukum perdagangan dan pelayaran “Ammana Gappa”, menyebut Selayar sebagai salah satu tujuan niaga. Bahkan hasil riset C. Heersink, menyebut Selayar sebagai penghasil emas hijau (kelapa) yang membuat daerah ini penting dalam aktivitas ekonomi (perdagangan). Lalu bagaimana dinamika masyarakat lokal di Selayar dan hubungannya dengan dunia luar di masa lalu?.

Buku ini membahas sejarah kerajaan-kerajaan di Nusa Selayar, masuk dan berkembangnya agama-agama, hubungan Selayar dengan dunia luar, kuasa kolonial di Selayar, gejolak politik pasca proklamasi kemerdekaan, dan perkembangan pemerintahan dari daerah otonom menjadi kabupaten.