——————————
Spesifikasi Buku:
——————————
Pengarang: Darman Manda
Penerbit: Rayhan Intermedia
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 103 hlm
Cetakan: I, 2017
ISBN: 978-602-6216-09-0
——————————
Sinopsis:
——————————
Buku ini mengurai tentang makna dan rangkaian pelaksanaan ritual Manusia Karampuang sebagai salah satu pendukung tradisi megalitik. Semesta Karampuang merupakan representasi entitas dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan, yaitu Gowa dan Bone. Hal ini terefleksi pada Simbol pakaian resmi dua pemangku adat yaitu Arung (Tomatoa) yang memakai songko’ guru (songkok khas Raja Bone) dan Gella menggunakan passapi (ikat kepala khas Kerajaan Gowa). Mungkin hal inilah yang menyebabkan munculnya anggapan bahwa istilah Karampuang berakar dari kata Karaeng dan Puang.

Dalam pelaksanaan ritual, terbagi atas empat kategori besar yang masing-masing memiliki penanggungjawab. Dalam pesan leluhurnya ada ungkapan yang mengatakan: “Mappugau Hanua Arungnge, Mabbissa Lompui GellaE, Makkaharui SanroE, Mattula Balai GuruE”. Dengan demikian, segala ritual yang berkaitan dengan hal-hal sakral seperti dewa-dewa atau orang-orang suci dan keramat menjadi tanggungjawab To Matoa atau Arung, segala ritual yang berhubungan dengan masalah tanah, pertanian, serta kehidupan rakyat banyak, menjadi tanggung jawab Gella. Upacara yang berhubungan dengan kesejahteraan dan kesehatan warga menjadi tanggungjawab Sanro. Sementara itu, upacara keagamaan menjadi tanggungjawab Guru.

Buku yang mengurai berbagai aspek tentang profil manusia Karampuang, Semesta Karampuang, Rangkaian Ritual Mappugau Hanua, dan Ritual Maddui ini, penting dibaca dalam upaya menelusuri kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan.